Friday, December 23, 2011

Hemoragia Post Partum / Perdarahan Post Partum

 
·           Istilah perdarahn postpartum digunakan apabila perdarahan anak setelah perdarahan setelah anak lahir melebihi 500 ml. Perdarahan primer terjadi dalam 24 jam pertama dan sekunder setelah itu.
·           Hal – hal yang menyebabkan perdarahn postpartum :
1.      atonia uteri
2.      perlukaan jalan lahir
3.      terlepasnya sebagian plasenta dari uterus
4.      tertinggalnya sebagian dari plasenta umpamanya kotiledon
5.      kelainan proses pembekuan darah akibat dari hipofibrinogenemia (solusio plasenta, retensi janin mati dalam uterus, emboli air ketuban)
·           Sebab terpenting perdarahan postpartum ialah atonia uteri.
·           Atonia uteri terjadi jika uterus tidak berkontraksi dalam 15 detik setelah dilakukan rangsangan taktil (pemijatan fundus uteri), setelah plasenta dan selaputnya dipastikan utuh dan lengkap.
·           Penyebab terjadinya atonia uteri :
1.      Gangguan terhadap kemampuan uterus berkontraksi :
·        Retensio plasenta
·        Bekuan darah / stolsel yang tersisa
·        Kandung kencing penuh
·        Gangguan pembekuan darah akibat perdarahan antepartum yang dapat disebabkan oleh :
-          plasenta previa (serat otot miring lebih sedikit di segmen bawah)
-          solusio plasenta (serat otot rusak oleh perdarahan tersembunyi)
2.      Regangan uterus yang berlebihan:
·        Paritas tinggi (kelenturan uterus yang hilang)
·        Kehamilan ganda
·        Polihidramnion
·        Bayi besar
3.      Kelelahan uterus :
·        Partus lama (dicegah dengan pitocin drip di rumah sakit bila tidak ada panggul sempit, atau bedah sesar bila ada panggul sempit)
·        Pemberian anestesi umum/epidural atau analgesik narkotik (dapat dicegah dengan memilih obat – obatan yang sesuai: hindari halothan dan siklopropan
4.      Tata kerja yang salah :
·        Cara tradisional yang membahayan
·        Salah penanganan kala III persalinan, dengan memijat uterus dan mendorongnya ke bawah dalam usaha melahirkan plasenta, sedang sebenarnya belum terlepas dari uterus.
5.      Faktor medis :
·        Anemia
·        Kelainan pembekuan
·        Hepatitis atau penyakit – penyakit lain, misalnya TBC, Kencing manis, hemoglobinopati
6.      Faktor obstetrik lainnya :
·        Primipara
·        Komplikasi kala III pada kehamilan sebelumnya (riwayat retensio plasenta, perdarahan postpartum)
·        Kematian intrauterin dengan janin mati tetap di dalam uterus
·        Eklamsia
·        Induksi persalinan
·        Partus presipitatus
·        Bedah sesar
·        Korioamnionitis atau endometritis
·        Disseminated Intravascular Coagulation (DIC)

Diagnosis (Atonia Uteri) :
·           Timbul perdarahan yang banyak dalam waktu pendek.
·           Pada perdarahan akibat atonia uteri, uterus membesar dan lembek pada palpasi
Sedangkan pada perlukaan karena jalan lahir, uterus berkontraksi dengan baik.
·           Bisa terjadi gejala dan tanda syok berat :
·        Nadi lemah dan cepat (110 x/menit atau lebih)
·        Tekanan darah sangat rendah : tekanan sistolik < 90 mmHg.
·        Nafas cepat (frekuensi pernafasan) 30 kali / menit atau lebih
·        Urine kurang dari 30 cc/ jam
·        Bingung, gelisah atau pingsan
·        Berkeringat atau kulit menjadi dingin dan basah
·        Pucat.
·           Diagnosis perdarahan pascapersalinan :
Gejala dan tanda yang selalu ada
Gejala dan tanda yang kadang – kadang selalu ada
Diagnosis kemungkinan
·        Uterus tidak berkontraksi dan lembek
·        Perdarahan segera setelah anak lahir (Perdarahan Pascapersalinan Primer atau P3)
·      Syok
Atonia uteri
·       Perdarahan segera (P3)
·      Darah segar yang mengalir segera setelah bayi lahir
·      Uterus berkontraksi baik
·      Plasenta lengkap
·        Pucat
·        Lemah
·        Menggigil

Robekan jalan lahir
·      Plasenta belum lahir setelah 30 menit
·      Perdarahan segera (P3)
·      Uterus kontraksi baik
·      Tali pusat putus akibat traksi berlebihan
·      Inversio uteri akibat tarikan
·      Perdarahn lanjutan
Retensio uteri
·      Plasenta atau sebagian selaput (mengandung pembuluh darah) tidak lengkap
·      Perdarahan segera
·      Uterus berkontraksi tetapi tinggi fundus tidak berkurang
Tertinggalnya sebagian plasenta
·      Uterus tidak teraba
·      Lumen vagina terisi massa
·      Tampak tali pusat (jika plasenta belum lahir)
·      Perdarahan segera
·      Nyeri sedikit atau berat
·      Syok neurogenik
·      Pucat dan limbung
Inversio uteri
·      Sub – involusi uterus
·      Nyeri tekan perut bawah
·      Peradarahan > 24 jam setelah persalinan. Perdarahan sekunder atau P2S. Perdarahan bervariasi (ringan atau berat, terus – menerus atau tidak teratur) dan berbau (jika disertai infeksi)
·      Anemia
·      Demam
Perdarahan terlambat
Endometritis atau sisa plasenta (terinfeksi atau tidak)
·      Peradarahan segera (P3)
(Peradarahan intraabdominal dan/ atau vaginum)
·      Nyeri perut berat
·      Syok
·      Nyeri tekan perut
·      Denyut nadi ibu cepat
Robekan dinding uterus (Ruptura uterus)


Penanganan (atonia uteri) :
·        Pencegahan :
-          anemia dalam kehamilan harus diobati, karena perdarahan dalambatas – batas normal dapat membahayakan penderita yang sudah menderita anemia.
-          tidak melakukan penyuntikan oksitosin secara I.M pada kala I untuk merangsang kontraksi uterus.
-          Nutrisi yang cukup pada kala I hingga kala II
-          dalam kala III uterus jangan dipijat dan didorong ke bawah sebelum plasenta terlepas dari dindingnya.
·        Penanganan :
1.        Rangsangan taktil (pemijatan) fundus uteri segera setelah lahirnya plasenta (maksimal 15 menit).
Pantau apakah uterus berkontraksi ?
Jika Ya à evaluasi rutin. Jika uterus berkontraksi tapi perdarahan terus berlangsung, periksa apakah perineum, vagina dan serviks mengalami laserasi dan jahit atau rujuk segera.
Jika  Tidak àlanjutkan langkah berikutnya.
2.        Bersihkanlah bekuan darah dan/atau selaput ketuban dari vagina dan lubang serviks.
3.      Pastikan bahwa kandung kemih telah kosong. Jika penuh atau dapat dipalpasi, kateterisasi kandung kemih menggunakan teknik aseptik.
4.      Lakukan kompresi bimanual internal (KBI) selam 5 menit.
Pantau kembali apakah uterus berkontarksi ?
Jika Ya à
¨      Teruskan KBI selama 2 menit.
¨      Keluarkan tangan perlahan – lahan.
¨      Pantau kala empat dengan ketat.
Jika Tidak à lanjutkan langkah berikutnya
5.        Anjurkan keluarga untuk mulai melakukan kompresi bimanual eksternal.
6.        Keluarkan tangan perlahan – lahan.
7.      Berikan ergometrin 0,2 mg IM (Jangan diberikan jika hipertensi).
8.        Pasang infus menggunakan jarum ukuran 16 atau 18 dan berikan 500 ml Ringer Laktat + 20 unit oksitosin. Habiskan 500 ml pertama secepat mungkin.
9.      Ulangi KBI.
Pantau kembali apakah uterus berkontraksi ?
Jika Ya à pantau ibu dengan seksama selama kala empat persalinan.
Jika Tidak à lanjutkan langkah berikutnya
10.     Rujuk segera.
11.    Dampingi ibu ke tempat rujukan.
Lanjutkan infus Ringer Laktat + 20 unit oksitosin dalam 500 ml larutan dengan laju 500 ml/jam hingga tiba di tempat rujukan atau hingga menghabiskan 1,5 l infus. Kemudian berikan 125 ml/jam. Jika tidak tersedia cairan yang cukup, berikan 500 ml kedua dengan perlahan dan berikan minuman untuk rehidrasi.

Kompresi Bimanual Uterus Internal (dari DALAM)
1.      Cuci tangan dengan sabun dan air bersih, lalu keringkan dengan handuk bersih. Gunakan sarung tangan yang steril/DTT.
2.      Letakkan tangan kiri seperti di atas (menekan fundus uteri dari luar)
3.      Masukkan tangan kanan dengan hati – hati ke dalam vagina dan buat kepalan tinju.
4.      Kedua tangan didekatkan dan secara bersama – sama menekan uterus.
5.      Lakukan tindakan ini sampai diperoleh pertolongan lebih lanjut, bila diperlukan. Prinsipnya dalah menekan uterus dengan cara manual agar terjadi hemostasis.


Kompresi Bimanual External (dari LUAR)
1.      Letakkan satu tangan pada abdomen di depan uterus, tepat di atas symphisis pubis.
2.      Letakkan tangan yang lain pada dinding abdomen (dibelakang korpus uteri), usahakan memegang bagian belakang uterus seluas mungkin).
3.      Lakukan gerakan saling merapatkan kedua tangan untuk melakukan kompresi pembuluh darah di dinding uterus dengan cara menekan uterus di antara kedua tangan tersebut. Ini akan membantu uterus berkontraksi dan menekan pembuluh darah.


Jenis Uterotonika untuk atonia uteri dan cara pemberiannya :
JENIS DAN CARA

OKSITOSIN

ERGOMETRIN

MISOPROSTOL

Dosis dan cara pemberian awal
I.V. : infus 20 ui dalam 1 liter larutan garam fisiologis dengan 60 tetesan per menit
I.M. : 10 ui
I.M. atau I.V (secara perlahan ) : 0,2 mg
Orala 600 mcg atau rectal 400 mcg
Dosis lanjutan
I.V. : infus 20 unit dala 1 liter larutan garam fisiologfis dengan 40 tetes/menit
Ulangi 0,2 mg I.M. setelah 15 menit. Jika masih diperlukan, beri I.M. / I.V. setiap 2 –4 jam
400 mcg 2-4 jam setelah dosis awal
Dosis maksimal per hari
Tidak lebih dari 3 liter larutan oksitosin
Toyal 1 mg atau 5 dosis
Total 1200 mcg atau 3 dosis
Indikasi kontra atau hati – hati
Tidak boleh memberi I.V. secara cepat atau bolus
Preeklamsia, vitium kordis, hipertensi
Nyeri kontraksi
Asma


**GoodLuck**